Nuans4's Blog

Just another WordPress.com weblog

Kabinet jilid 2 Oktober 22, 2009

Filed under: 1 — nuans4 @ 12:52 pm

dengan di lantiknya presiden SBY kita berharap dapat lebih baik lagi. tapi apakah keputusan sudah tepat dalam mengambil keputusan. pergantian kabinet yang baru membuat semuanya berubah dari segi kebijakan atau yang lain.

Untungnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, tidak di gantikan. jadi program yang sudah ada dapat di jalankan.  mungkin ini juga berkat kerja keras beliau dalam 5 tahun terakhir di mana, nama Indonesia mengenai image kebudayaan dan pariwisata nasional .

Usaha yang beliau lakukan terus mendukung adanya kemajuan di sektor tersebut. berkat pargelaran kesenian yang di adakan sejak menjadi menteri. diantaranya yang masih hangat dan mendapatkan rekor guiness book mencetak upacara di bawah laut yang mencapai peserta lebih dari 2000 orang.

Lanjutkan kinerjamju Pak menteri

Iklan
 

Pakaian Tradisional Oktober 3, 2009

Filed under: pakian tradisional — nuans4 @ 7:34 am

Kejawen merupakan jenis pakaian khas Jawa sejak zaman dahulu, kerajaan Demak, kerajaan Mataram sampai saat ini. Pakaian ini terdiri dari celana panji-panji (cinden), baju surjan, kebayak, teni atau blenggen, iket blankon, kemben, kuluk (untuk upacara raja dengan menteri-menterinya) dan lain sebagainya.

Surjan merupakan pakaian tradisional khas laki-laki Jawa sehari-hari dan upacara yang dilengkapi blangkon dan bebetan. Sedangkan untuk putri menggunakan Kebaya atau Jaritan.

Mesiran, kebanyakan pakaian tradisional jenis ini digunakan untuk menggambarkan suasana asal dari pemakai. Pakaian ini berasal dari Negara Timur Tengah dan masih dipergunakan, khususnya dalam acara-acara ketoprak. Pakaian terdiri dari celana panjang gombyor, kemeja panjang, rumpai, jubah, udel, simbar terbuat dari kain bludru yang dibordir.

Basahan merupakan jenis pakaian tradisional gabungan antara pakaian Kejawen dengan Mesiran. Biasanya dipegunakan oleh para wali atau dapat dilihat saat pertunjukan tarian cerita Menak.

Gedhog, pakaian terdiri dari tropong, jamang dan sumping, kelat bahu, dan lain sebagainya.

 

Pakaian Khas Minangkabau

Filed under: pakian tradisional — nuans4 @ 7:31 am

Pakaian Penghulu
datuak.jpgPakaian Penghulu merupakan pakaian kebesaran dalam adat Minangkabau dan tidak semua orang dapat memakainya. Di samping itu pakaian tersebut bukanlah pakaian harian yang seenaknya dipakai oleh seorang penghulu, melainkan sesuai dengan tata cara yang telah digariskan oleh adat. Pakaian penghulu merupakan seperangkat pakaian yang terdiri dari
1. Destar
Deta atau Destar adalah tutup kepala atau sebagai perhiasan kepala tutup kepala bila dilihat pada bentuknya terbagi pula atas beberapa bahagian sesuai dengan sipemakai, daerah dan kedudukannya.
Deta raja Alam bernama “dandam tak sudah” (dendam tak sudah). Penghulu memakai deta gadang (destar besar) atau saluak batimbo (seluk bertimba). Deta Indomo Saruaso bernama Deta Ameh (destar emas). Deta raja di pesisir bernama cilieng manurun (ciling menurun).
Destar atau seluk yang melilit di kepala penghulu seperti kulit yang menunjukkan isi dengan pengertian destar membayangkan apa yang terdapat dalam kepala seorang penghulu. Destar mempunyai kerut, merupakan banyak undang-undang yang perlu diketahui oleh penghulu dan sebanyak kerut dester itu pulalah hendaknya akal budi seorang penghulu dalam segala lapangan.
Jika destar itu dikembangkan, kerutnya mesti lebar. Demikianlah paham penghulu itu hendaklah lebar pula sehingga sanggup melaksanakan tugasnya sampai menyelamatkan anak kemenakan, korong kampung dan nagari. Kerutan destar juga memberi makna, bahwa seorang penghulu sebelum berbicara atau berbuat hendaklah mengerutkan kening atau berfikir terlebih dahulu dan jangan tergesa-gesa.

 

Pernak Pernik Pakaian Adat Aceh

Filed under: tarian nusantara — nuans4 @ 7:21 am

Pakaian adat Aceh
Pakaian adat Aceh dilengkapi dengan beberapa macam pernik yang biasa selalu dikenakan pada acara-acara tertentu. Pernik-pernik tersebut antara lain:

Keureusang (Kerosang/Kerongsang/Bros)

adalah perhiasan yang memiliki ukuran panjang 10 Cm dan lebar 7,5 Cm. Perhiasan dada yang disematkan di baju wanita (sejenis bros) yang terbuat dari emas bertatahkan intan dan berlian. Bentuk keseluruhannya seperti hati yang dihiasi dengan permata intan dan berlian sejumlah 102 butir. Keureusang ini digunakan sebagai penyemat baju (seperti peneti) dibagian dada. Perhiasan ini merupakan barang mewah dan yang memakainya adalah orang-orang tertentu saja sebagai perhiasan pakaian harian.

Patam Dhoe

Patam Dhoe adalah salah satu perhiasan dahi wanita Aceh. Biasanya dibuat dari emas ataupun dari perak yang disepuh emas. Bentuknya seperti mahkota.
Patam Dhoeterbuat dari perak sepuh emas. Terbagi atas tiga bagian yang satu sama lainnya dihubungkan dengan engsel. Di bagian tengah terdapat ukuran kaligrafi dengan tulisan-tulisan Allah dan di tengahnya terdapat tulisan Muhammad-motif ini disebut Bungong Kalimah-yang dilingkari ukiran bermotif bulatan-bulatan kecil dan bunga.

Peuniti

Seuntai Peuniti yang terbuat dari emas; terdiri dari tiga buah hiasan motif Pinto Aceh. Motif Pinto Aceh dibuat dengan ukiran piligran yang dijalin dengan motif bentuk pucuk pakis dan bunga. Pada bagian tengah terdapat motif boheungkot (bulatan-bulatan kecil seperti ikan telur). Motif Pinto Aceh ini diilhami dari bentuk pintu Rumah Aceh yang sekarang dikenal sebagai motif ukiran khas Aceh. Peuniti ini dipakai sebagai perhiasan wanita, sekaligus sebagai penyemat baju.

Simplah

Simplah merupakan suatu perhiasan dada untuk wanita. Terbuat dari perak sepuh emas. Terdiri dari 24 buah lempengan segi enam dan dua buah lempengan segi delapan. Setiap lempengan dihiasi dengan ukiran motif bunga dan daun serta permata merah di bagian tengah. Lempengan-lempengan tersebut dihubungkan dengan dua untai rantaiSimplah mempunayi ukuran Panjang sebesar 51 Cm dan Lebar sebesar 51 Cm..

Subang Aceh

Subang Aceh memiliki Diameter dengan ukuran 6 Cm. Sepasang Subang yang terbuat dari emas dan permata. Bentuknya seperti bunga matahari dengan ujung kelopaknya yang runcing-runcing. Bagian atas berupa lempengan yang berbentuk bunga Matahari disebut “Sigeudo Subang”. Subang ini disebut juga subang bungong mata uro.

 

Pakaian Adat Batak

Filed under: pakian tradisional — nuans4 @ 7:16 am

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong”, yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Dahulu nenek moyang suku Batak adalah manusia-manusia gunung, demikian sebutan yang disematkan sejarah pada mereka. Hal ini disebabkan kebiasaan mereka tinggal dan berladang di kawasan pegunungan. Dengan mendiami dataran tinggi berarti mereka harus siap berperang melawan dinginnya cuaca yang menusuk tulang. Dari sinilah sejarah ulos bermula.

Pada awalnya nenek moyang mereka mengandalkan sinar matahari dan api sebagai tameng melawan rasa dingin. Masalah kecil timbul ketika mereka menyadari bahwa matahari tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Pada siang hari awan dan mendung sering kali bersikap tidak bersahabat. Sedang pada malam hari rasa dingin semakin menjadi-jadi dan api sebagai pilihan kedua ternyata tidak begitu praktis digunakan waktu tidur karena resikonya tinggi. Al hajatu ummul ikhtira’at, karena dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak akhirnya nenek moyang mereka berpikir keras mencari alternatif lain yang lebih praktis. Maka lahirlah ulos sebagai produk budaya asli suku Batak.

Tentunya ulos tidak langsung menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya. Sesuai dengan hukum alam ulos juga telah melalui proses yang cukup panjang yang memakan waktu cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti sekarang. Berbeda dengan ulos yang disakralkan yang kita kenal, dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Tetapi ulos yang mereka gunakan kualitasnya jauh lebih tinggi, lebih tebal, lebih lembut dan dengan motif yang sangat artistik.

Setelah mulai dikenal, ulos makin digemari karena praktis. Tidak seperti matahari yang terkadang menyengat dan terkadang bersembunyi, tidak juga seperti api yang bisa menimbulkan bencana, ulos bisa dibawa kemana-mana. Lambat laun ulos menjadi kebutuhan primer, karena bisa juga dijadikan bahan pakaian yang indah dengan motif-motif yang menarik. Ulos lalu memiliki arti lebih penting ketika ia mulai dipakai oleh tetua-tetua adat dan para pemimpin kampung dalam pertemuan-pertemuan adat resmi. Ditambah lagi dengan kebiasaan para leluhur suku Batak yang selalu memilih ulos untuk dijadikan hadiah atau pemberian kepada orang-orang yang mereka sayangi.

Kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek kehidupan orang Batak. ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku Batak.

Mangulosi, adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Mangulosi secara harfiah berarti memberikan ulos. Mangulosi bukan sekadar pemberian hadiah biasa, karena ritual ini mengandung arti yang cukup dalam. Mangulosi melambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Dalam ritual mangulosi ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, antara lain bahwa seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi anak tidak boleh mangulosi orang tuanya. Disamping itu, jenis ulos yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan adat. Karena setiap ulos memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang “non Batak”. Pemberian ini bisa diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat negara, selalu diiringi oleh doa dan harapan semoga dalam menjalankan tugas-tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.

 

Tari Jaran Kepang

Filed under: tarian nusantara — nuans4 @ 7:02 am
Tari Jaran Kepang Wonosobo

Kesenian tradisional merupakan pertunjukan yang menarik bagi wisatawan, khusunya wisatawan manca. Tarian tradisional juga sering ditampilkan pada acara perayaan khusus seperti hari ulang tahun kemerdekaan RI, hajatan keluarga dll.

Salah satunya adalah Tari Jaran Kepang. Biasanya dibawakan oleh 7 orang penari, satu penari sebagai plandang (pemimpin) dan enam lainnya sebagai prajurit. Tarian ini didasarkan pada Legenda Raden Panji Asmoro Bangun yang sedang mencari kekasihnya yang bernama Dewi Sekartaji.

Para penari menaiki jaran (kuda) yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Pemimpin tari biasanya membawa pecut/cemeti atau cambuk yang biasa digunakan alat bantu dalam mengendalikan kuda. Tarian ini disebut juga jathilan.

Selain itu ada pula Tari Bangilun, Tari Angguk, Kesenian Bundengan, Tari Cepetan, Tari Lengger patut Anda saksikan pada pagelaran di daerah Wonosobo tersebut. (wonosobokab.go.id/rmb)

 

Tari Rangguk

Filed under: tarian nusantara — nuans4 @ 7:00 am
Tari Rangguk Jambi
ANTARA

Jambi merupakan salah satu Provinsi di Sumatera yang mungkin saja jarang Anda kunjungi. Tak jarang beberapa kebudayaan akan Anda temukan di sana. Salah satu tarian kebesaran masyarakat Kerinci, Jambi adalah Tari Rangguk.

Tari Rangguk sendiri berasal dari Dusun Cupak Kerinci yang dibawa oleh seorang ulama. Keunikan tarian ini adalah mengandung unsur ajaran Islam yang dipadukan antara Tarian Silat Melayu dengan alat musik rebana.

Sesuai perkembangan zaman, Rangguk berubah fungsinya, sebelumnya menjadi hiburan kini menjadi sebuah tarian khusus upacara penyambutan tamu. Dengan tekstur melingkar dan kemudian alunan rebana serta pantun pun mulai dimainkan. Bagi kaum wanita, dianggap tabu untuk melakukan tarian ini.

Nilai filosofis tarian Rangguk tercipta pada gerakan tubuh seirama dengan pantun, menyelaraskan berbagai makhluk hidup di bumi ini. Tarian ini juga mengandung unsur religius, agar setiap manusia selalu bersyukur dan menambah ketakwaannya kepada Allah SWT. (rmb)